Yogyakarta, Jurnalpublik.com – Aktivis Islam ataupun mereka yang terpanggil untuk berislam dengan benar merasakan arti penting banyak berinteraksi dengan buku. Hasil interaksi itu tak lain untuk mengukuhkan aktivisme yang berkualitas. Geliat kesadaran menoleh ke Islam mulai ekstensif sejak dekade 1980-an dan selalu beririsan dengan kemunculan penerbitan buku-buku keislaman. Hal ini berlaku hingga sekarang.

Aktivitas membaca di kalangan aktivis Islam mungkin saja belum ideal untuk secara luas dan kolektif. Namun, perkembangan dan dinamika yang terjadi tidak perlu dipandang sebelah mata. Terutama yang berlaku di kalangan kaum muda Muslim. Dunia baca buku cetak masih bersaing dengan pesona gawai dan dunia digital. Ini yang membuat geliat perbukuan Islam masih eksis, bahkan ketika pandemi melanda negeri kita dua tahun belakangan.

Tak sekadar membaca, aktivis Islam dan Muslimin secara umum juga mulai tergerak untuk menorehkan karya berbentuk buku. Memang persentase yang berkeinginan seperti ini masih sangat kecil. Tapi, pertumbuhan karya yang dihasilkan yang saban tahun meningkat menunjukkan bahwa geliat untuk meneruskan budaya baca menjadi aksi menulis tidak bisa dipandang sebelah mata.

Bagaimana potret sebenarnya kaitan membaca, berpikir, dan menuliskan ide menjadi buku? Kita akan berbincang bersama para pelaku yang meniti dari bawah lalu menyeriusi aktivitas menulis buku sebagai upaya bertahan dalam menjaga kewarasan dan idealisme selaku Muslim.

Mari simak, Sabtu 16 Oktober 2021 pukul 19.45-22.00 WIB, program diskusi terbuka buat umum di kanal Kalam dan Pembacanya pada tautan berikut:

https://meet.google.com/pqb-gcwy-yxx

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here