Hendrajit, Pakar Geopolitik Global, bersama Inggar Saputra, Pengurus KA-KAMMI
Hendrajit, Pakar Geopolitik Global, bersama Inggar Saputra, Pengurus KA-KAMMI

Jurnalpublik.id-Jakarta, Hendrajit, pakar geopolitik global, dalam diskusinya bersama Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA-KAMMI), menyampaikan bahwa sikap Indonesia di PBB yang mengecam Rusia adalah langkah yang tidak bijaksana. Menurutnya Indonesia sebenarnya berpeluang sebagai penengah dari konflik ini dengan menggalang dukungan negara Asia Afrika agar konflik segera berhenti.

“Di dalam konteks seperti ini tanpa harus menyalahkan atau apa sebetulnya sikap Indonesia di PBB kemarin itu abstain saja. Kalau anda lihat China, yang sekutu Rusia saja abstain. Artinya kalau abstain pesannya ada hal yang tidak bisa kita terima, tapi kita juga paham historis di balik ini yang tidak bisa menghakimi begitu saja Rusia. Jerman yang jelas-jelas NATO saja abstain. Tapi kita kenapa justru on beside 141 negara yang tanpa jelas reationing-nya,” tutur Hendrajit (10/3/2022).

Menurut Hendrajit, membaca arah politik Ukraina dan Rusia harus memahami dalam konteks apa AS dan negara Barat memainkan politik internasionalnya. Menurutnya, Ukraina dalam peta politik global berfungsi sebagai buffer state yang akan membuka pintu masuk negara Barat dalam kolonialisasi modern terhadap negara-negara eks Soviet.

“AS dan sekutunya menempatkan Ukraina sebagai negara proxy mereka. Ini dibaca Rusia sebagai ancaman dalam konteks pertahanan militer negaranya sehingga memicu perang. Indonesia seharusnya mengambil posisi dan peran penting sebagai juru damai sebagai bentuk nyata politik luar negeri bebas aktif,“ terang Hendrajit.

Aktivis Global Future Institute ini menambahkan, pelajaran dari krisis Ukraina untuk Indonesia adalah untuk menyadari pentingnya mengetahui letak geografis yang menjadi aset geopolitik perebutan bangsa-bangsa besar.

“Indonesia harus mengambil pelajaran dari krisis ini, bahwa betapa bahaya jadi proksi negara asing. Betapa sangat membahayakan jika sebuah negara tidak menyadari lokasi geografisnya menjadi asset politik perebutan negara adikuasa” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here