Jakarta, Jurnalpublik.com – Indonesia telah melewati puncak gelombang Covid – 19 varian Omicron, tetapi harus waspada karena jumlah kasus dan kematian tinggi. Pelonggaran mobilitas untuk pemulihan ekonomi harus diikuti protokol kesehatan.

“Setelah melewati puncak Omicron pada 20 Februari lalu, kini kasus Covid – 19 turun. Sebagaimana karakteristik gelombang Omicron di sebagian besar negara lain, kasusnya cepat naik, tetapi juga turun dalam waktu singkat. Hal ini juga dialami Indonesia,” kata juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, di Jakarta, Selasa (8/3/2022).

Dalam sebulan, kasus Covid-19 mingguan di Indonesia meningkat hingga hampir 400.000 kasus. Dalam dua pekan, kasus turun setengahnya. Penurunan kasus diikuti turunnya angka okupansi tempat tidur di rumah sakit rujukan Covid-19 nasional selama 10 hari terakhir. “Dari sebelumnya 38.79 persen menjadi 28,2 persen,” ujarnya.

Sesuai laporan Kementerian Kesehatan, kasus Covid – 19 di Indonesia bertambah 30.148 dalam sehari, tetapi kasus aktif turun 25.381 kasus. Sementara korban jiwa bertambah 401 orang, yang tertinggi selama fase varian Omicron.

Tren kematian mingguan naik. Pada 21 – 27 Februari 2020 ada 1.708 kematian karena Covid-19 dan naik jadi 2.099 kematian. Untuk menekan risiko kematian, diperlukan penanganan cepat. Mereka yang terinfeksi, meski bergejala ringan, perlu diperiksa untuk mencegah pemburukan.

Seiring penurunan kasus aktif, kini DKI Jakarta berstatus pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 2 setelah hampir sebulan di level 3. Warga DKI Jakarta diminta segera melengkapi vaksinasi primer atau dosis penguat demi meningkatkan perlindungan. Gubernur Anies Baswedan menyatakan, status PPKM merupakan proses normal.

Fase Transisi 

Menurut Wiku, kondisi pandemi saat ini dan ke depan akan dipengaruhi kebijakan pemerintah terkait vaksinasi, penerapan protokol kesehatan, riwayat infeksi alami di masyarakat, dan perkembangan virus. “Di tengah kepastian ini, Indonesia harus melanjutkan pemulihan sektor lain, seperti pendidikan dan ekonomi,” ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah mulai menjalankan fase transisi dan adaptasi dengan melonggarkan kegiatan serta mobilitas bagi pelaku perjalanan luar negeri dan dalam negeri secara bertahap sesuai perkembangan kasus.

Sekretariat Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menambahkan, sejumlah indikator harus dicapai agar Indonesia masuk kondisi endemi. Indikator itu antara lain transmisi virus di komunitas level 1. cakupan vaksinasi lengkap minimal 70 persen, capaian tes dan pelacakan sesuai standar, serta laju penularan kurang dari satu.

“Pelonggaran aktivitas warga, termasuk protokol kesehatan, sesuai tren kasus. Kita akan mencari titik keseimbangan antara kepentingan kesehatan dan non kesehatan sehingga harus sinergis,” ujarnya kemarin.

Pelaku perjalanan luar negeri yang divaksin lengkap cukup melakukan karantina sehari sesuai Surat Edaran Nomor 12/2022 tentang protokol kesehatan perjalanan Luar Negeri pada Masa Pandemi Covid-19. Pelaku perjalanan Luar Negeri wajib menunjukkan hasil negatif Covid-19 berdasarkan tes reaksi rantai polimerase (PCR).

Sementara pelaku perjalanan luar negeri, tambah Wiku, tidak perlu tes Covid-19 jika sudah divaksin dosis kedua atau ketiga. Adapun mereka yang baru mendapat vaksinasi dosis pertama atau tidak bisa divaksinasi karena masalah kesehatan wajib melampirkan hasil tes negatif sebelum keberangkatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here