Musim panas 1984. Dalam kesempatan ke Belanda untuk keperluan riset teks Sunda, salah satunya meneliti naskah surat Haji Hasan Mustapa untuk Dr C Snouck Hurgronje, Ajip Rosidi sengaja bersua kawan lamanya: Asahan Aidit. Asahan adik kelas Ajip ketika bersekolah SMA di Taman Siswa.

Ketika terjadi peristiwa Gestapu, Asahan tengah kuliah di Vietnam. Di negeri komunis ini, Asahan menamatkan Ph.D. dalam linguistik. Ekses peristiwa Gestapu, hubungan Indonesia dan Vietnam memburuk. Asahan berpindah ke Belanda.

Hari itu Jumat, tempo bersuanya kawan lama. Ajip menuliskan di Hidup Tanpa Ijazah (2008: 920-1) kisah beribadah Jumat dengan dua adik Dipa Nusantara Aidit: Sobron dan Asahan. Mula yang ditemuinya Asahan.

Ajip bercerita:

Asahan menemui aku di perpustakaan KITLV pada hari Jum’at. Pada waktu salat berjama’ah aku ajak dia ke Masjid Maroko yang letaknya tidak jauh dari kantor KITLV. Tadinya bangunan itu digunakan untuk gereja tetapi karena kosong tak ada jamaahnya, gedungnya dijual dan dibeli oleh komunitas muslim asal Maroko untuk dijadikan masjid. Ketika pada tahun 1970-an aku ke negeri Belanda, kalau mau salat Jum’at harus pergi ke Den Haag. Hanya di KBRI diselenggarakan salat Jum’at.

Menurut Asahan, ayahnya muslim yang taat. Semua saudaranya, termasuk D.N. dan Sobron, khatam al-Qur-an. Asahan tidak khatam karena keburu dibawa pindah ke Jakarta. Ayahnya, Pak Abdullah Aidit, diangkat menjadi anggota DPRS-RI sebagai wakil daerahnya—Belitung. Asahan sendiri waktu di Tanjung Pandan, Belitung belajar mengaji kepada bibinya tetapi setelah tinggal di Jakarta tidak ada yang mengajarinya.

Sebagai orang eksil dia mendapat santunan dari pemerintah Belanda. Jumlahnya cukup untuk hidup sendiri. Kalau anak-isterinya datang, santunannya akan bertambah.

Asahan belajar bahasa Rusia di Universitas Lomonosov, Moskwa. Tetapi dia juga belajar bahasa Vietnam. Dia menguasai kedua bahasa itu dengan baik. Maka aku segera menganjurkan agar dia menterjemahkan karya-karya sastera dari bahasa Rusia dan Vietnam ke dalam bahasa Indonesia. Tetapi dia malah memberikan naskah roman yang tebal sekali untuk aku usahakan kemungkinan terbitnya. Naskah itu kemudian aku edit berat dan judulnya aku rubah menjadi Perang dan Kembang (Jakarta, Pustaka Jaya, 2001) sedang nama pengarangnya Asahan Alham.

Kutipan sampai di sini.

Beberapa hari kemudian, Ajip bertemu abang Asahan di Paris. Dia menuliskan pada buku yang sama halaman 922-3:

Aku menelepon Sobron untuk mengajaknya bertemu. Sejak dia masih tinggal di Cina, aku sudah bersurat-suratan dengan Sobron. Dia pertama kali mengirimi aku surat ke alamat DKJ di Jakarta, yang kemudian dilanjutkan ke alamatku di Jepang, Waktu itu isterinya sedang sakit parah sampai akhirnya meninggal. Mereka mempunyai dua orang anak perempuan. Waktu pemerintah RRC hendak berbaikan kembali dengan pemerintah RI, maka semua orang Indonesia yang ada di sana disuruh keluar, kebanyakan pergi ke negara-negara Eropa, seperti Perancis, Belanda, Swedia, Jerman Timur, dan lain-lain. Sobron dengan beberapa orang kawannya pergi ke Paris.

Ajip kembali bercerita:

Ketika membuat janji dengan Sobron untuk bertemu, kebetulan hari Jum’at. Kami bertemu di stasion metro Chatelet dan dari sana kami pergi ke masjid Paris. Di jalan aku bertanya kepada Sobron, “Bagaimana sekarang sikapmu terhadap komunisme?”

“Kau gila,” jawabnya sambil tertawa. “Aku ini sekarang kan hidup di sini karena ditolong oleh musuh-musuhku, yaitu kaum kapitalis dan imperialis!”

Dan waktu kami sudah masuk ke masjid dan selesai melakukan salat tahiyatulmasjid, dia berbisik kepadaku, “Jip, kau ini luar biasa. Jum’at yang lalu kauajak Asahan ke masjid di negeri Belanda, sekarang aku yang kauajak ke masjid. Tetapi bagus karena waktu kecil aku ini kan khatam Qur-an.”

“Kalau kau khatam Qur-an, kan seharusnya kau salat lima kali setiap hari,” jawabku. “Aku sendiri tidak pernah belajar mengaji.”

“Tapi kau sekarang muslim yang taat,” bisiknya lagi. “Cuma aku merasa heran mengapa sikapmu terhadap kami berlainan dengan orang-orang Islam yang lain. Kautolong beberapa orang kawanku. Mengapa?”

Agaknya meskipun tidak pernah pulang ke tanahair sejak paruh kedua tahun 1950-an, informasi tentang tanahair terutama tentang kawan-kawannya sampai juga kepadanya.

“Apa yang aneh?” jawabku. “Yang aku lakukan adalah apa yang harus dilakukan oleh setiap muslim yang baik. Setap muslim wajib menolong orang yang sedang dalam kesukaran.”

Percakapan kami hari itu—yang disambung lagi setelah selesai salat, sampai waktu kami makan di rumah makan Vietnam—banyak menyinggung soal agama. Aku mengharap dia akan menjadi muslim yang taat seperti ayahnya.

Kuripan cerita Ajip sampai di sini, dan ia menutup dengan catatan kaki, “Tapi harapanku tidak terbukti. Pada tahun 1990-an Sobron aku dengar pindah memeluk agama Protesan. Tetapi setiap aku tanyakan hal itu dia selalu mungkir.”

Ada banyak pelajaran dari cerita Ajip Rosidi ini. Salah satunya saja, kita tak pernah tahu bagaimana akhir hidup kita kelak. Jangan kecil hati kalau keislaman kita macam Ajip. Sebaliknya, jangan berpuas keislaman kita seperti tiga bersaudara Aidit. Syukurlah Asahan masih memeluk Islam, tanpa sebengis memusuhi agamanya sebagaimana Aidit.

Pelajaran berikutnya, mengajak atau mendakwahi saudara yang terjerembap pada ideologi sesat harus dengan memerhatikan aspek kemanusiaan. Menyentuh hati dengan tidak meninggalkan begitu saja mereka. Mengapa? Siapa dinyana mereka pengin sangat balik ke keyakinan lama. Siratal mustaqim.[]

Yusuf Maulana
Pensyarah Samben Library

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here