Lies Incorporated, The World of Post-Truth Politics merupakan judul buku yang ditulis Ari Rabin-Havt dan Media Matters for America pada tahun 2015. Sebuah buku yang menguraikan tentang berbagai jenis kebohongan yang dirancang dan dibuat oleh kelompok ataupun lembaga untuk mendistorsi proses pembuatan kebijakan atau untuk propaganda yang menguntungkan pengusaha, para politisi maupun partai politik. Kelompok/lembaga tersebut menyalurkan informasi yang salah dan menimbulkan kebingungan publik seputar isu-isu paling kontroversial.

Saya teringat buku tersebut terkait dengan isu saat ini yaitu tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dimuat dalam Berita Resmi Statistik (BRS) No. 60/08/Th. XXIV, 5 Agustus 2021 tentang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2021. Pada BRS tersebut, ekonomi Indonesia triwulan II-2021 terhadap triwulan II-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 7,07 persen (y-on-y) dan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2021 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 3,31 persen (q-to-q). Mungkin data yang ditampilkan itu benar, tapi banyak orang awam yang tidak percaya terhadap pertumbuhan tersebut, karena mereka merasakannya sendiri tentang kondisi pada triwulan kedua tahun 2021 ini kondisi ekonominya lebih parah dari pada kondisi pada triwulan pertama.

Namun lucunya banyak juga orang pandai yang tertipu dengan hal-hal yang menyesatkan dengan menggunakan alat statistik, seperti yang diungkap oleh Ben Goldcare (2009) dalam bukunya Bad Science. Para akademisi yang paham akan statistik sudah mahfum tentang kemungkinan untuk mengakali angka-angka tersebut dengan metode atau cara pengukuran yang “disesuaikan”.

Bukunya Darrel Huff (1954), buku klasik yang menjadi best-seller pada zamannya mengungkap bagaimana berbohong dengan statistik sesuai dengan judul bukunya How to Lie with Statistics. Atau bisa juga dibaca dari bukunya Daniel Levitin (2017) yang berjudul A Field Guide to Lies: Critical Thinking with Statistics and the Scientific Method.

Ketidakpercayaan dan kecurigaan masyarakat terhadap hal-hal yang mungkin saja benar, karena masyarakat sudah dijejali dan dibanjiri dengan hoaks, kebenaran campur hoaks oleh produsen hoaks. Kondisi seperti ini merupakan hal yang lumrah, karena kita hidup di era post-truth. Konsekwensi yang mungkin terjadi adalah masyarakat muak dan adanya ketidakpercayaan kepada sesama masyarakat maupun kepada pemerintah.

BPS sesuai dengan mottonya ‘Data Mencerdaskan Bangsa” tentu tidak akan berbuat sebaliknya karena berarti menghianati konstitusi dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan bukunya Robert Hooke (2014) yang berjudul How to Tell the Liars from the Statisticians bahwa statistisi itu sebagai pencerah bukan sebagai pembohong.

Sugeng Budiharsono
Pemerhati sosial ekonomi masyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here