Jakarta, Jurnalpublik.com – Terus terang saya canggung dan grogi berbicara di forum malam mingguan Kalam dan pembacanya (16/10) yang rutin diadakan oleh mas Yusuf Maulana dan Tim Pustaka Remboeg. Bagaimana tidak canggung, saya berbicara di hadapan Profesor, dosen, alumni Mesir dan para seniman buku.

Saya memang lebih senang menyebut penulis buku dengan istilah seniman, karena seniman adalah seseorang yang membuat karya dengan imajinasi dan berfikir. Membuat buku baik fiksi atau non fiksi pun dibuat dengan imajinasi.

Dalam forum ini saya meminta maaf langsung kepada peserta karena disambi dengan kegiatan rapat IKA UII Sleman. Meski begitu, saya berharap tidak mengurangi esensi acara ini.

Terkait diskusi mengenai dari membaca lahirlah karya, saya termasuk yang mengamini pernyataan penulis senior yang hadir sebagai pemantik, Ustadz M. Anwar Djaelani. “Tidak mungkin kita menulis, kalau kita tidak banyak membaca,” ungkapnya.

Yang bikin miris, data dari UNESCO minat baca di Indonesia, dari 1.000 orang hanya 1 orang yang senang membaca. Ini fakta yang harus diperbaiki bersama-sama terkait indeks literasi membaca kita.

Saya juga mengatakan, dalam menulis kita dihadapkan dalam dua pilihan. Antara pilihan idealis dengan pilihan bisnis. Karya karya idealis, meski kita puas menulisnya terkadang penjualannya kurang menggembirakan. Ketika kita memilih opsi bisnis, maka idealisme kita tidak tersampaikan dalam buku tersebut. Memang dilematis!

Apakah mungkin menggapai kedua duanya? Jawabannya, sangat-sangat mungkin. Sekarang banyak pilihan untuk menjual buku tidak hanya lewat toko offline, akan tetapi juga melalui online (digital marketing).

Problem seniman buku saat ini juga dihadapkan oleh pembajakan pembajakan karya yang bahkan tidak dijual di toko offline. Ini juga problem baru yang dihadapi baik penulis lama ataupun baru.

Ada pertanyaan, perlukah riset sebelum menentukan judul? Saya kira dalam studi ekonomi pun penting melakukan Studi Kelayakan Bisnis (SKB) sebelum membuka bisnis tertentu. Riset kecil-kecilan bisa kita lakukan dengan mendatangi toko toko buku, kira kira apa tema yang belum digarap oleh kebanyakan penulis.

Segmen siapa yang kita tuju kiranya juga menjadi penting dalam sebuah penulisan buku. Kita harus tau siapa segmen yang ingin disasar dalam penulisan buku kita.

Terakhir, adalah momentum. Momentum juga penting dalam sebuah penulisan buku. Misal, saat COVID-19 merebak di tahun 2020, saya dan teman teman BAZNAS menggagas penulisan buku “Relawan Melawan COVID-19,” sebuah buku kisah nyata yang ditulis oleh relawan ketika berjuang membantu melawan COVID-19. Buku lain yang pernah saya garap saat ada momentum adalah, “Sunardi Syahuri; Kyai Dermawan dari Yogyakarta untuk Indonesia.”

Sebagai penutup, saya ucapkan terima kasih kepada teman teman yang ikut nimbrung dalam diskusi ini, mas Syamsudin Kadir, Iwan Wahyudi, Aldy Istanzia Wiguna, serta pemantik diskusi lainnya yang keren, Ustadz Roni Haldi.Tentu banyak insight baru dari teman teman pegiat buku yang saya sebut.

Kepada sang empu acara tersebut, mas Yusuf Maulana, saya ucapkan banyak banyak terima kasih karena sudah diberi kesempatan berbicara di forum ini. Semoga buku “Nun, Kalam Pecandu Buku,” bisa laris manis seperti edisi sebelumnya. Aamiin.[]

Edo Segara Gustanto

Dosen IIQ An-Nur Yogyakarta/Seniman Buku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here